Lagu Batak “Pecah” Suara di Manado

1532091Laboratorium-Kandou780x390

KOMPAS.com - “Tambah, tambah lagi!” begitu seru pembawa acara pada siang yang lumayan terik di ruang tamu Laboratorium Terpadu Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Dr. R.D. Kandou, di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (14/2/2015).

Acara yang penuh dengan nyanyian dan tawa ceria itu memang berkait dengan peluncuran laboratorium terpadu tersebut. Tak tanggung-tanggung, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang pun ikut hadir.

Adalah  Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi Chairul Radjab Nasution yang didaulat untuk bernyanyi. “Karena saya orang Batak. Saya akan menyanyikan lagu dari daerah saya,” kata pria berkacamata itu sumringah.

Jadilah, Chairul, dengan suara merdu, melantunkan lagu Alusi Ahu. Saat dua bait lagu dinyanyikan,seratusan lebih peserta mulai dari tamu undangan hingga para dokter, termasuk Direktur Utama RSUP  Prof.Dr.R.D. Kandou, Dr. Maxi R. Rondonuwo  langsung bernyanyi dengan varian suara bas dan tenor. Maka, lagu Batak itu pun “pecah” suara di Manado.

Ihwal laboratorium terpadu itu, dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama Rajawali Nusindo atau RNI Nusindo Tony Visiyanto punya cerita sendiri. Awalnya, pada Mei 2014, pihaknya memenangi tender untuk proyek tersebut. “Kompetitornya banyak. Tapi, akhirnya kami menang,” tuturnya.
Menurut Tony, tender tersebut terbilang baru bagi kelaziman di Rajawali Nusindo. “Kami kan ahli di bidang distribusi alat kesehatan,” katanya sembari menambahkan bahwa keahlian itu terpupuk sejak perusahaan berdiri pada sekitar 1960-an.

KSO

Saat ini, Rajawali Nusindo tercatat sebagai anak perusahaan Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut dikenal bergerak pada bidang-bidang produksi gula dan minyak kelapa sawit. Namun demikian, RNI juga punya anak perusahaan yang memproduksi kondom merek “Artika” dan “Meong” yakni PT Mitra Rajawali Banjaran. Produk-produk perusahaan yang memunyai pabrik di Banjaran, Jawa Barat, itu dibeli pemerintah untuk realisasi program Keluarga Berencana Nasional.

1519100Artika-Kondom780x390

Tony melanjutkan, tender tersebut berbentuk kerja sama operasional (KSO) dengan pihak RSUP Kandou. Secara singkat, pihak RSUP yang menyediakan ruangan untuk laboratorium terpadu serta tenaga medis. Sementara, Rajawali Nusantara berpartisipasi menyediakan alat-alat kesehatan untuk pemeriksaan gula darah, HIV-AIDS, imunologi, hingga kanker. Rajawali Nusantara juga yang melakukan renovasi ruangan tersebut. KSO itu bakal berjalan dengan bagi hasil pendapatan (revenue sharing).

Tak cuma itu, di dalam KSO itu, ada pula pengembangan teknologi untuk sistem informasi laboratorium (LIS) yang terintegrasi dengan sistem informasi rumah sakit (HIS). Dengan sistem itu, hasil pemeriksaan laboratorium bisa rampung lebih cepat dari standard 1,5 jam. Semua sistem beroperasi secara digital.

Dengan segala pernak-pernik tersebut, KSO itu menjadi pemicu bagi Rajawali Nusindo untuk mengembangkan sistem solusi total tak sekadar sebagai distributor alat kesehatan. “Ini pilot projectkami,” tutur Tony.

Lebih lanjut, seturut catatan Tony, pihaknya menggelontorkan dana hingga di kisaran Rp 20 miliar untuk proyek tersebut. Porsi terbesar dari anggaran itu berfokus pada pembelian alat-alat kesehatan berbentuk mesin dari luar negeri.

Targetnya, dua tahun setelah beroperasi, proyek ini sudah bisa menghasilkan titik impas.

Sementara itu, untuk proyek KSO selanjutnya tahun depan, imbuh Tony, pihaknya menyasar empat sakit pemerintah tipe A. Rumah sakit tipe ini adalah rumah sakit yang berada langsung di bawah Kementerian Kesehatan. “Ada yang di Bali. Ada yang Bandung,” kata Tony.

Masih menurut catatan Tony, Rajawali Nusindo membukukan pendapatan Rp 2,6 triliun sampai dengan akhir 2014 dari total pendapatan RNI yang menyentuh angka Rp 5 triliun. Dari pendapatan Rp 2,6 triliun tadi, sekitar 50 persennya merupakan perolehan bidang healthcare yang di dalamnya termasuk alat-alat dan produk kesehatan. Sementara, selebihnya berasal dari bisnis ritel distribusi berikut perdagangan minyak goreng, gula, beras, air minum dalam kemasan, daging, mesin-mesin industri, dan sebagainya.

Sampai dengan akhir 2015, Rajawali Nusindo, yang saat ini memiliki 43 cabang se-Indonesia itu,  membidik pendapatan Rp 3,1 triliun. Laba usaha dibidik menjadi Rp 300 miliar. Angka ini sejatinya adalah kenaikan 15 persen ketimbang realisasi laba pada 2014 yang berada di angka Rp 250 miliar.

Editor: Josephus Primus

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/02/16/185021926/Lagu.Batak.Pecah.Suara.di.Manado