Category Archives: News and Events

PT. Rajawali Nusindo ramaikan Hospital Expo 2015 di JCC

IMG_7514Bisnis alat kesehatan (alkes) di Indonesia mengalami perubahan yang sangat drastis dengan mulai dijalankannya Jaminan Kesehatan Nasional. Kebutuhan akan layanan rumah sakit yang bermutu seiring dengan semakin membaiknya perekonomian dan derajat kesehatan masyarakat. Dalam beberapa tahun belakangan ini, industri alat kesehatan Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup berarti dengan diterbitkannya berbagai peraturan dan perundang-undangan yang bertujuan untuk mendorong investasi dan menciptakan kondisi bisnis dan jasa rumah sakit yang lebih baik.
IMG_7495Bisnis alat kesehatan kini bukan hanya menjadi sesuatu atau seperangkat alat yang dibutuhkan oleh pusat-pusat kesehatan dan rumah sakit, melainkan juga oleh setiap rumah. Keberadaan peralatan kesehatan telah menjadi sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap rumah mengingat fungsi pemeriksaan dini dan pertolongan pertama sangatlah penting guna menghindari berbagai resiko kesehatan yang lebih fatal.
Oleh karena itu, permintaan akan peralatan kesehatan cenderung semakin meningkat setiap bulannya apalagi kini telah banyak masyarakat yang sadar akan fungsi pemeriksaan dini dan pertolongan pertama.
Situasi ini banyak dimanfaatkan oleh pebisnis untuk membuka peluang usaha. Jual alat kesehatan menjadi salah satu peluang usaha yang prospektif dan profitable saat ini.
IMG_7426Maka dari itu Rajawali Nusindo selalu hadir dalam Event Hospital Expo yang selalu di adakan setiap tahun. Hospital Expo 2015 ini adalah pameran yang ke- 28 yang pernah digelar, Pelaksanaan Hospital Expo Tahun 2015 ini berlangsung selama 4 hari (tgl. 21 – 24 Oktober 2015) di JCC.
Pameran ini memberikan informasi terbaru tentang alat kesehatan kepada para pelaku industri kesehatan di Indonesia dan diharapkan mampu merangsang produsen alat kesehatan lokal semakin berani berekspansi sehingga tidak perlu lagi mendapatkan perlengkapan dan produk kesehatan dari tempat lain.
IMG_7467Salah satu pengunjung Hospital Expo 2015 di JCC Rozyman Arif yang berkunjung ke Stand Rajawali Nusindo menjelaskan tentang keuntungan dan kemudahan berbisnis serta membeli produk alat kesehatan melalui system online atau e-catalog. Menurut pria yang bekerja di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Palembang, “Sekarang para usahawan ini lebih banyak menggunakan media online atau e-catalog untuk melakukan bisnisnya karena lebih simpel dan mudah dalam pengembangan bisnis. Sistem e-catalog adalah sistem informasi elektronik yang memuat informasi seputar daftar nama produk, jenis, spesifikasi teknis, harga satuan terkecil, dan pabrik penyedia.
Harga yang tercantum dalam e-catalog adalah harga satuan terkecil, di mana sudah termasuk pajak dan biaya distribusi. Pengadaan barang yang sudah termuat dalam e-Catalog dilaksanakan melalui mekasisme e-Purchasing, serta bersifat penunjukkan langsung oleh satuan kerja. Pengertian sederhana e-Catalog (e-katalog) adalah suatu daftar yang dibuat secara elektronik yang bisa diakses secara online berbasis internet.
IMG_7349Dalam event ini Rajawali Nusindo juga membuka stand alat kesehatan yang lebih menarik di bandingkan Hospital Expo sebelumnya, dengan space yang lebih luas serta produk produk alkes yang lebih lengkap.
Rajawali Nusindo sendiri memasarkan produk-produk dari abbot, mindray, socorex, humasens, reagent, riele, solaris, smiths, ahmadaris dan lain-lain. Selain itu di dalam stand Rajawali Nusindo ini para pengunjung juga dapat memeriksa kesehatan mereka dari tensi darah, gula, dan kesehatan mata serta mendapatkan informasi-informasi tentang produk yang di pamerkan.
Selain itu ajang ini juga bisa menjadi penghubung antar para pelaku industri kesehatan baik itu konsumen, produsen maupun yang lainnya sehingga bisa tercipta sebuah jaringan yang saling menguntungkan satu sama lain.
Penyedia alat kesehatan dan produk perumahsakitan yang berpameran di Hospital Expo ke-28 bukan hanya berasal dari Indonesia. Sebanyak 169 perusahaan yang berpameran di acara yang diselengarakan berbarengan dengan Seminar Nasional Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) ke-13 berasal dari luar negeri, seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Eropa, Hongkong, Inggris, Italia, Turki, Vietnam hingga Korea Selatan.

IMG_7461

Sementara, sebanyak 296 perusahaan berasal dari dalam negeri, mereka adalah rumah sakit (RS), produsen dan distributor alat kesehatan serta aneka produk terkait perumahsakitan lainnya. Para peserta pameran yang berlangsung 15 hingga 18 Oktober 2014 itu menyasar kalangan perumahsakitan yang hadir sebagai peserta seminar Persi maupun yang khusus mendatangi Jakarta Convention Centre (JCC). (Salman Nusindo)

Pelaksanaan Orientasi Karyawan Baru Rajawali Nusindo 2015

Tercapainya tujuan dari sebuah organisasi tidak lepas dari kerja keras orang-orang di dalamnya dan juga hubungan internal yang dijalankan. Demi mencapai tujuan-tujuan tersebut maka sebuah organisasi memerlukan sosok pemimpin yang mampu mengarahkan para karyawan dengan baik dan sabaliknya juga memerlukan karyawan yang memiliki etos kerja yang baik pula.
IMG_1453
Asset kunci yang sangat penting untuk pengembangan dan pencapaian tujuan organisasi atau suatu perusahaan adalah sumber daya manusia. Manusia sebagai salah satu bagian dari organisasi atau perusahaan yang memiliki potensi, keterampilan dan kemampuan individu sebagai tenaga kerja, memiliki peluang dan kesempatan untuk mengembangkannya. Oleh sebab itu manusia sangat dibutuhkan oleh organisasi secara keseluruhan.
Karyawan adalah sumber daya yang sangat penting dan sangat menentukan suksesnya perusahaan.Karyawan menurut Rhenald Kasali adalah orang-orang di dalam perusahaan yang tidak memegang jabatan struktural.(Rhenald Kasali, 2005:72)
Karyawan juga selalu disebut sebagai human capital, yang artinya Selain hal tersebut, posisi karyawan menjadi sangat penting disebabkan juga oleh hal berikut (John Tondowidjojo, 2005: 27) :

a. Mereka sangat berpengaruh atas tanggung jawab, produksi, kualitas, kuantitas dan pelayanan.
b. Karyawan merupakan juru bicara dan perwakilan dari organisasi atau perusahaan terhadap dunia luar.
c. Karyawan sangat menentukan wujud penampilan organisasi.

IMG_1465Kinerja adalah sikap, nilai moral, serta alasan internal maupun eksternal yang mendorong seseorang untuk bekerja atau bertindak dalam profesinya.Atau kinerja (performance) berarti, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja atau hasil kerja atau unjuk kerja atau penampilan kerja.
Kinerja dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain kepuasan karyawan, kemampuan karyawan, motivasi, lingkungan kerja, kepemimpinan (Kuswadi, 2006:27). Kinerja meliputi beberapa aspek, yaitu:
a) Quality of work (kualitas pekerjaan)
b) Promptness (kecepatan dan ketepatan hasil kerja)
c) Initiative (kemampuan mengambil inisiatif)
d) Capability (kesanggupan atau kemauan melaksanakan pekerjaan)
e) Communication (kemampuan komunikasi dengan lingkungannya)

Karyawan bisa belajar seberapa besar kinerja mereka melalui sarana informal, seperti komentar yang baik dari mitra kerja, tetapi penilaian kerja mengacu pada suatu sistem formal dan terstruktur yang mengukur, menilai, dan mempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan dengan pekerjaan, perilaku, dan hasil, termasuk tingkat ketidakhadiran.
Fokusnya adalah untuk mengetahui seberapa produktif seorang karyawan dan apakah ia bisa bekerja sama atau lebih efektif pada masa yang akan datang, sehingga karyawan, organisasi, dan masyarakat semuanya memperoleh manfaat.
Kegiatan penilaian kerja adalah bagian dari sistem manajemen kinerja yang berkembang dalam perjalanan waktu. Sistem-sistem semacam ini dilandasi kepercayaan bahwa kinerja individu bervariasi dalam perjalanan waktu dan bahwa individu bisa berpengaruh terhadap kinerja mereka.(Randall S. Schuler Dan Susan E. Jackson, 2005:93).

IMG_1482Jadi suatu sistem manajemen kinerja yang efektif umumnya menjalankan dua tujuan:
a) Tujuan evaluasi yang membiarkan orang tahu dimana posisinya.
b) Tujuan pengembangan yang memberikan informasi dan arahan tertentu kepada individu, sehingga ia dapat memperbaiki kinerjanya.
Maka dari itu Sehubungan dengan peningkatan pemahaman dasar yang mencakup kegiatan-kegiatan sumber daya manusia lainnya seperti kompensasi, promosi, perencanaan, pengembangan dan pelatihan, serta validasi sistem seleksi untuk ketaatan hukum khususnya bagi karyawan baru, PT. Rajawali Nusindo melaksanakan Program Orientasi Karyawan Baru yang dilkasanakan di Ruang Auditorium Lantai 6 Gedung RNI.
Orientasi Karyawan Baru ini dilaksanakan selama 3 hari terhitung dari tanggal 14-15 September 21, 2015. Sedangkan untuk Peserta yang mengikuti Program Orientasi Karyawan Baru terdiri dari karyawan baru sebanyak 16 orang dan karyawan PKWT Kantor Pusat yang bergabung terhitung per tahun 2014 sebanyak 8 orang.

IMG_1464Pada hari pertama, pembukaan OKB di buka dengan arahan dari GM SDM dan Umum Gita Indriani dan dilanjutkan dengan penjelasan Orientasi Korporasi yang mencakup; Sejarah Perusahaan, Organisasi Perusahaan, Bidang Bisnis Perusahaan, GCG, dan Manajemen Resiko yang disampaikan oleh Manager Sekretariat Perusahaan, Yanto Togi Marpaung. Pada Hari kedua pelaksanaan OKB, di isi dengan penjelasan tentang Pengelolaan dan proses Bisnis PT Rajawali Nusindo, yang disamapaikan oleh Manager Distribusi HC Fery Priyadi. Setelah break ishoma, OKB pun dilanjutkan dengan penjelasan tentang Pengelolaan SDM PT. Rajawali Nusindo yang mencakup; Perjanjian Kerja Bersama, Kedisiplinan & Tata Tertib, Pengelolaan SDM Sistem

Rekruitmen, Sistem Pengembangan Karyawan, Prinsip-prinsip Hubungan Industrial, Fungsi dan Peran Karyawan dalam Hubungan Industrial, Ketentuan Pokok dalam Hubungan Industrial PT. Rajawali Nusindo, yang disampaikan oleh GM SDM dan Umum Gita Indriani. Dan Pada Hari Terakhir pelaksanaan OKB, di isi dan ditutup dengan dengan Kelas Internal Auditor, Kelas Asisten Pembukuan, dan Kelas Supervisor Salesman, Salesman & Marketing. (Salman Nusindo)

Rakor RKAP 2016 : Nusindo Siap Laksanakan ISC

Rakor 2015 1

Setiap awal semester merupakan momentum yang biasa digunakan oleh setiap perusahaan untuk membuat sebuah perencanaan dan evaluasi atas pelaksanaan kerja periode semseter sebelumnya. PT Rajawali Nusindo memiliki agenda tahunan yang sama di setiap tahun yaitu Rakor Anggaran (RKAP).

IMG_0735Kegiatan ini diikuti oleh seluruh jajaran manajemen di kantor pusat dan cabang yaitu Direksi, GM, Manager, dan Kepala Cabang. Kegiatan Rakor Anggaran 2016 ini berisi agenda utama yaitu pemaparan program kerja perusahaan, sosialisasi prinsipal baru, Implementasi, menyusun RKAP 2016 beserta program-program kerja yang akan dilaksanakan untuk menunjang pencapaiannya RKAP 2016. Dilaksanakan di Yasmin Hotel Tanggerang Banten pada tanggal 02 – 04 September 2015, Rakor Anggaran 2015 ini bertemakan “Increase Productivity and Liquidity Improvement”. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Komisaris Utama PT Rajawali Nusindo Djoko Retnadi pada tanggal 2 September 2015.

Dalam kesempatan pembukaan, beliau menyampaikan kepada seluruh Kepala Cabang yang hadir tentang besarnya potensi yang dimiliki oleh Perusahaan untuk menjadi lebih besar dan perusahaan yang disegani dalam industrinya. Beliau mengajak seluruh jajaran manajemen dan karyawan untuk bersama-sama bekerja keras membangun rajawali Nusindo untuk meraih prestasi tertinggi.

Djoko juga menyampaikan visi-misi RNI yang salah satunya adalah mendorong sinergi antar anak usaha RNI yang terintegrasi melalui intergrated suplly chain (ISC), yaitu sentralisasi pengadaan kebutuhan seluruh anak usaha RNI Grup oleh Rajawali Nusindo.

Dalam sambutannya, Direktur Utama Rajawali Nusindo, Tony Visiyanto juga menyampaikan kesiapan perusahaan dalam menjalankan program Intergated Suplly Chain (ISC) yang ditugaskan RNI Holding. Untuk Itu RKAP 2016 juga akan mengarah terhadap pencapaian ISC tersebut. Agus Murtiar selaku Direktur Keuangan dan SDM selanjutnya menjelaskan tentang Pengelolaan Modal Kerja dan Piutang, persediaan, serta Strategi dan Rencana Kerja bagian Keuangan 2016. Sedangankan Direktur Operasional, Chairani Harahap memaparkan tentang Highlight Penjualan di Tahun 2015, serta peluang-peluang usaha Rajawali Nusindo di Tahun 2016. Tak lupa pula beliau juga menjelaskan mengenai strategi operasional dari Healthcare, Consumer Goods and Industrial,dan Logistik.

IMG_0893

Setelah Direksi menyampaikan presentasi, acara pun dilanjutkan dengan Workshop Anggaran oleh seluruh cabang yang berlanjut dari hari pertama, kedua, dan terakhir.

IMG_1003 cropDi hari ketiga acara rakor anggaran 2015 ini dibuka dengan Perkenalan Calon Prinsipal Baru Notula yang akan bergabung dengan Rajawali Nusindo, dan dilanjutkan dengan penyampaian hasil Rakor Anggaran yang di sampaikan oleh Direktur Utama Tony Visianto, Tony membahas tentang Asumsi Anggaran pada tahun 2016 mendatang meliputi, Pertumbuhan Ekonomi yang mencapai 6,8%, Inflasi yang mencapai rata-rata 6-7%, Tingkat Suku Bunga yang mencapai rata-rata 11%, Nilai tukar USD yang sudah melewati RP. 13.500.

Tony juga menyampaikan apresiasi yang tinggi serta optimisme terhadap kinerja cabang dan besarnya harapan untuk peningkatan laba, beliau juga berpesan untuk bahu membahu mengembangkan bisnis-bisnis yang akan berkembang, pengelolaan piutang dan persediaan.

IMG_1089

Setelah penyampaian hasil RKAP acara pun dilanjutkan dengan penyerahan jubilium yang desematkan untuk para karyawan yang sudah melewati masa kerja selama 25 tahun yaitu Hilarius Bayu Widiyantoro dari cabang Surabaya 2, selanjutnya Wardoyo dari cabang Padang, dan yang terakir Parmin dari cabang Madiun.

IMG_1113

Setelah penyerahan Jubilium acara pun di tutup oleh arahan dari Komisaris Muhammad Najib, beliau megucapkan terimakasih dan selamat atas tercapainya Rakor RKAP 2016. Belaiu juga menyampaikan harapan-harapannya tentang pertumbuhan Rajawali Nusindo yang harus melewati diatas angka Inflasi, menyelesaikan hutang piutang yang ada, serta pengembangan divisi IT yang harus mencapai realtime sesuai permintaan para Prinsipal.

Acara RKAP 2016 pun ditutup dengan suka cita dengan harapan menjadi mementum penting yang akan membawa Rajawali Nusindo kepada kesuksesan di tahun 2016 dan selanjutnya.

IMG_1153

Dengan semangat kerjasama dan kerja keras yang dicanangkan direksi diharapkan Rajawali Nusindo semakin tangguh dan mampu bersaing dalam lingkungan industri jasa distribusi dan trading. Setelah penutupan RKAP acara pun dilanjutkan dengan Foto Bersama Direksi, Komisaris dan seluruh peserta RKAP yang hadir. (Salman Nusindo)

Prosedur Pelaporan Pelanggaran (Whistleblowing System) Rajawali Nusindo

Whistleblowing merupakan pengungkapan praktik illegal, tidak bermoral atau melanggar hukum yang dilakukan oleh anggota organisasi (baik mantan pegawai atau yang masih bekerja) yang terjadi di dalam organisasi tempat mereka bekerja. Pengungkapan dilakukan kepada seseorang atau organisasi lain sehingga memungkinkan dilakukan suatu tindakan. Berdasarkan pihak yang dilapori, whistleblowing dibagi menjadi internal whistleblowing dan eksternal whistleblowing. Internal whistleblowing adalah whistleblowing kepada pihak di dalam organisasi atau melalui saluran yang disediakan organisasi. Sedangkan eksternal whistleblowing adalah pengungkapan kepada pihak di luar organisasi. Pada dasarnya whistleblowing system adalah sebuah sistem pencegahan dan identifikasi terhadap kecurangan yang akan terjadi dalam suatu perusahaan/organisasi.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dyck antara tahun 1996 hingga 2004 menunjukkan, 18,3% kasus kecurangan yang dilakukan perusahaan di Amerika Serikat dideteksi dan dilaporkan oleh pegawainya. Hasil analisis KPMG (2007) terhadap berbagai organisasi di Eropa, Asia Tengah, dan Afrika menemukan bahwa 25% pelanggaran dilaporkan oleh pegawainya. Berdasarkan hasil survei dari Association of Certified Fraud Examiners (ACFE, 2010, dalam Robinson, Jesse, Curtis, 2012) diungkapkan bahwa whistleblowing adalah suatu metode paling umum dalam mendeteksi kecurangan.

Saat ini whistleblowing system sudah banyak diterapkan di berbagai organisasi dan negara di dunia. Hal ini karena perusahaan yang gagal menciptakan situasi yang memungkinkan pelaporan pelanggaran secara internal, akan terlibat bencana. Untuk itu organisasi harus menciptakan suasana yang mendorong pegawai untuk melaporkan tindakan yang salah, sehingga bisa membuat tindakan yang salah tersebut dihentikan dan dikoreksi secepatnya. Melaporkan tindakan yang tidak benar adalah isu sosial yang penting dan memiliki manfaat yang banyak bagi berbagai stakeholder. Penghargaan terhadap pelapor (whistleblower) dan prosedur yang efektif untuk menangani laporan whistleblower oleh organisasi, dapat memberikan manfaat yang besar bagi organisasi dan para pegawainya.

Whistleblowing system memungkinkan penyalahgunaan wewenang dapat dengan cepat diidentifikasi dan dikoreksi sehingga bisa meningkatkan efisiensi, meningkatkan moral pegawai, menghindari tuntutan hukum, dan menghindari citra negatif. Namun whistleblowing system tidak akan berhasil jika hanya dibuat aturan dan tidak dipraktikkan. Untuk menjalankan sistem ini diperlukan peran aktif pegawai. Hal ini disebabkan orang biasa tidak bisa menjadi whistleblower, hanya orang di dalam organisasi yang mampu melakukannya. Anggota organisasi merupakan sumber daya yang berharga untuk meminimalisasi kecurangan.
Pegawai memiliki peranan penting dalam whistleblowing system, karena pegawai adalah sumber untuk mendeteksi hal-hal yang salah. Jika pegawai tidak peduli dengan program ini maka pelaksanaannya pun akan gagal. Dengan demikian harus ada orang di dalam organisasi yang mau melaporkan jika menemukan penyalahgunaan wewenang atau kecurangan di organisasi.

Riset menunjukkan bahwa motivasi orang untuk menjadi seorang whistleblower bermacam-macam. Keputusan seseorang untuk menjadi whistleblower mungkin dipengaruhi variabel individu atau konteks organisasi. Variabel individu misalnya biaya dan manfaat (cost and benefit), usia, status perkawinan, pendidikan. Konteks organsisasi seperti misalnya faktor budaya etis (ethical culture), iklim etis (ethical climate), ukuran organisasi, struktur organisasi dan saluran komunikasi. Namun penelitian yang dilakukan Miceli dan Near menunjukkan bahwa pengaruh konteks organisasi lebih banyak menentukan keputusan seseorang menjadi whistleblower, jika dibandingkan dengan pengaruh variabel individu. Konteks organisasilah yang membuat whistleblowing menjadi permasalahan moral.
tindakan seseorang dalam organisasi apabila terjadi perilaku yang melanggar etika organisasi, adalah mengabaikan (inaction), menegur langsung atau berkonfrontasi dengan pelaku (confronting with the wrongdoer), lapor pada atasan (reporting to management), lapor melalui saluran internal organisasi (calling internal hotline), dan lapor melalui saluran di luar organisasi (external whistleblowing). kelima tindakan tersebut dipicu oleh adanya faktor dalam organisasi yang disebut Ethical Culture.

Ethical culture dapat diketahui dengan empirical tested study menggunakan Corporate Ethical Virtues Model, model ini meliputi tujuh variabel yaitu clarity, congruency senior management and local management, feasibility, supportability, transparency, discussability, dan sanctionability. Variabel kejelasan (clarity) adalah bagaimana organisasi membuat aturan etika, seperti nilai, norma atau prinsip menjadi sesuatu yang nyata dan dipahami oleh karyawan. Derajat kejelasan menunjukkan tingkat pemahaman para pegawai pada perilaku yang diharapkan oleh organisasi terhadap mereka. Kesesuaian (congruency) senior management and local management, adalah peran atasan sebagai role model atau menjadi contoh penerapan standar etika di organisasi atau sejauh mana atasan menerapkan standar etika dalam perilaku mereka sehari-hari.

Perilaku atasan diharapkan bisa menguatkan standar etika yang berlaku dan meningkatkan kepercayaan karyawan terhadap atasan. Organisasi bisa saja membuat kode etik yang jelas untuk mengarahkan perilaku anggotanya, tetapi jika atasan sebagai sumber perilaku normatif yang penting dalam organisasi menunjukkan perilaku berlawanan, maka para pegawai akan dihadapkan pada ketidaksesuaian atau pesan yang tidak konsisten.
Kemungkinan dilaksanakan (feasibility) adalah ketersediaan waktu, anggaran, peralatan, informasi, dan wewenang di dalam organisasi yang memungkinkan karyawan melaksanakan tugas-tugas mereka. Feasibility juga terkait dengan faktor sumber daya perusahaan yang membuat whistleblower system ini berjalan. Sebagai contoh, karyawan yang terlalu sibuk dengan pekerjaan cenderung tidak peduli dengan lingkungan sehingga memperkecil kemungkinan menjadi whistleblower.
Dukungan (supportability) adalah sejauh mana organisasi menciptakan suasana yang mendukung tindakan etis. Dukungan bisa berupa suasana yang kondusif di dalam organisasi sehingga karyawan merasa nyaman untuk bertindak etis. Organisasi bisa memperkuat aspek dukungan ini antara lain dengan mengadakan internalisasi kode etik kepada para karyawan di dalam organisasi, sehingga membuat karyawan makin berkomitmen dengan kode etik organisasi. Sedangkan transparency adalah tingkatan dimana tindakan bagi pelaku pelanggaran etika atau konsekuensinya dapat dilihat secara nyata oleh internal perusahaan.

Karyawan akan melaporkan kecurangan atau penyalahgunaan wewenang dalam perusahaan, apabila mereka merasa akan ada hasilnya. Pentingnya implementasi Good Corporate Governance (GCG) menjadi kebutuhan sekaligus tuntutan yang tidak dapat dihindari dalam perkembangan bisnis global dan peningkatan citra perusahaan. GCG merupakan sistem sekaligus struktur dalam rangka memberi keyakinan kepada segenap pihak yang berkepentingan (Stakeholders) bahwa perusahaan dikelola dan diawasi untuk melindungi kepentingan Stakeholders yang sejalan dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip GCG yang berlaku umum maupun yang akan terus dikembangkan sesuai asas universal.
Pada dasarnya keberhasilan implementasi GCG sangat ditentukan oleh komitmen dari seluruh jajaran perusahaan, kesiapan dan kelengkapan organ pendukung perusahaan (infrastructure GCG) dan juga kebijakan GCG lainnya (softstructure GCG) dengan tetap memperhatikan kesesuaian, karakteristik bisnis dan kebutuhan perusahaan.

Sebagaimana diamanatkan dalam prinsip GCG, dalam melaksanakan kegiatannya perusahaan senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan Stakeholders berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan. Namun demikian perusahaan menyadari bahwa untuk dapat mewujudkannya perlu upaya nyata yang tidak mudah untuk dilaksanakan.
Dalam pelaksanaan kegiatan usaha perusahaan seringkali hak-hak Stakeholders tidak dapat terlaksana dengan baik sehingga menimbulkan friksi antara Stakeholders dengan Perusahaan yang ditunjukkan dengan munculnya pelaporan pelanggaran oleh Stakeholders. Pelaporan pelanggaran oleh Stakeholders ini apabila tidak diselesaikan dengan baik akan berpotensi merugikan Stakeholders dan atau Perusahaan. Penyelsaian laporan peaksanaan oleh Stakeholders adalah merupakan salah satu bentuk peningkatan perlindungan Stakeholders dalam rangka menjamin hak-haknya dalam berhubungan dengan perusahaan. Oleh karena itu dipandang perlu untuk mengatur penyelesian pelaporan pelanggaran bagi Stakeholders dalam suatu pedoman dan prosedur penanganan pelaporan pelanggaran.
Pedoman dan prosedur penanganan pelaporan pelanggaran (Whistleblowing) adalah suatu system yang dapat dijadikan media bagi saksi pelaporan untuk menyampaikan informasi mengenai indiskasi tindakan pelanggaran yang terjadi di dalam suatu perusahaan. Informasi yang diperoleh dari mekanisme pelaporan pelanggaran (Whistleblowing) ini perlu mendapatkan perhatian dan tindak lanjut, termasuk juga pengenaan hukuman yang tepat agar dapat memberikan efek jera bagi pelaku pelanggaran dan juga bagi mereka yang berniat melakukan hal tersebut.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa PT Rajawali Nusindo memandang pedoman dan prosedur penanganan pelaporan pelanggaran (Whistleblowing) merupakan bagian dari sistem pengendalian internal. Dengan demikian dapat dipahami bahwa PT Rajawali Nusindo memandang pedoman dan prosedur penanganan pelaporan pelanggaran (Whistleblowing) merupakan bagian dari sistem pengendalian internal.
PT Rajawali Nusindo senantiasa memperhatikan kepentingan Stakeholders berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan. Perusahaan juga menyadari bahwa tidak adanya mekanisme standar dalam penanganan pelaporan pelanggaran oleh Stakeholders dapat berakibat menurunkan reputasi dan kepercayaan masyarakat pada perusahaan. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman dan prosedur pelaporan pelanggaran ini merupakan salah satu bentuk peningkatan perlindungan terhadap Stakeholders dan perlindungan terhadap nama baik perusahaan. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, dalam rangka pelaksanaan pedoman dan prosedur, Perusahaan menganggap perlu adanya mekanisme pelaporan pelanggaran sebagaimana diuraikan di bawah ini.

Cara menyampaikan Pelaporan Pelanggaran ke Perusahaan

1. Pelaporan pelanggaran dilakukan secara tertulis
a. Menyampaikan surat resmi yang ditujukan kepada perusahaan c.q Dewan Komisaris, dengan cara diantar langsung, dikirim melalui facsimile, atau melalui pos ke perusahaan.

b. Jika menyangkut Direksi, melalui e-mail:
• pelaporan_pelanggaran@nusindo.co.id
• whistleblowing@nusindo.co.id
• sekdekom@nusindo.co.id

c. Selain Direksi, melalui e-mail:
• direksi@nusindo.co.id
• pelaporan_pelanggaran@nusindo.co.id
• whistleblowing@nusindo.co.id
• sekdekom@nusindo.co.id

d. Disampaikan ke alamat resmi:
DEWAN KOMISARIS
PT RAJAWALI NUSINDO
Gedung RNI, Lantai 2 & 4
Jl.Denpasar Raya Kav. D-III, Kuningan
Jakarta 12950, Indonesia

Melalui penerapan Whistleblowing System secara efektif, maka banyak manfaat yang dapat diperoleh oleh perusahaan, antara lain:
1. Tersedianya informasi kunci dan kritikal (critical & key information) bagi perusahaan kepada pihak yang harus segera menanganinya secara aman dan terkendali.
2. Dengan semakin meningkatnya kesediaan untuk melaporkan terjadinya berbagai pelanggaran, maka timbul rasa keengganan untuk melakukan pelanggaran karena kepercayaan terhadap sistem pelaporan yang efektif.
3. Tersedianya mekanisme deteksi dini (early warning mechanism) atas kemungkinan terjadinya masalah yang diakibatkan adanya suatu pelanggaran.
4. Mengurangi/ meminimalisir risiko yang dihadapi organisasi (perusahaan) akibat pelanggaran baik dari segi keuangan, operasi, hukum, keselamatan kerja dan reputasi.
5. Mengurangi biaya (cost reduction) dalam mengelola akibat terjadinya suatu pelanggaran.
6. Meningkatnya reputasi perusahaan dimata pemangku kepentingan(stakeholders), regulator, dan masyarakat umum (publik). (Salman Nusindo)

Selamat Bertugas Direksi RNI Yang Baru

Pada hari Kamis tanggal 2 Juli 2015, PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI) selaku Holding Company memperkenalkan, mengumumkan wajah-wajah baru dewan direksi RNI, yakni B. Didiek Prasetyo Sebagai Direktur Utama, M. Yana Aditya sebagai Direktur Keuangan, Agung P. Murdanoto Sebagai Direktur Pengembangan Usaha & Investasi, Elka Wahyudi sebagai Direktur Pengendalian Usaha & Risk Manajemen dan Djoko Retnadi sebagai Direktur SDM & Manajemen Asset. Kehadiran jajaran direksi baru PT Rajawali Nusantara Indonesia ini juga sekaligus menggantikan direksi sebelumnya yaitu Dandossi Matram, Oki Jamhur Warnaen dan Bambang Adi Sukarelawan bertempat di Auditorium lantai 6 Gedung RNI, Kuningan Jakarta.

Pengangkatan tersebut berdasarkan surat Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-101/MBU/06/2015 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota Direksi Perusahaan Perseroan RNI. Adalah Deputi bidang Agro Industri dan Farmasi Kementerian BUMN, M Zamkhani, yang menyampaikan mewakili pemegang saham pada jam 09.00 WIB di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta. Di bawah kepemimpinan Didik Prasetyo, perusahaan yang bergerak di empat bidang usaha, yaitu agroindustri, farmasi dan alat kesehatan, perdagangan dan distribusi serta properti ini nantinya akan memposisikan kembali dirinya sebagai Invesment Holding.

Menurut Direktur Utama Rajawali Nusantara Indonesia B. Didik Prasetyo, jajaran direksi ini nantinya akan lebih fokus pada upaya-upaya strategis ke arah pengembangan secara grup dimana akan diberikan kewenangan penuh untuk anak perusahaan menjalankan kegiatan operasional perusahaan secara utuh. Selain itu, Direksi PT RNI Holding selaku pemegang saham juga akan menetapkan arah perusahaan yakni dengan merumuskan kebijakan yang bersifat strategis. Dengan demikian, pengembangan perusahaan ke depan secara Group dapat direncanakan lebih terprogram dan terarah. “Kami akan memberikan kewenangan penuh kepada anak perusahaan untuk menjalankan kegiatan operasional perusahaan secara utuh. Sebagai investment holding peranan Direksi RNI Holding selaku pemegang saham, lebih kepada menetapkan arah perusahaan dengan merumuskan kebijakan yang bersifat strategis. Sehingga pengembangan perusahaan ke depan secara Group dapat direncanakan lebih terprogram dan terarah,” terang Didik. Direktur Utama Rajawali Nusantara Indonesia B. Didiek Prasetyo, memperoleh gelar Sarjana Kehutanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), sebelumnya beliau berkarir sebagai Asisten Deputi bidang Usaha Energi, Pertambangan, Percetakan dan Pariwisata Kementerian BUMN. Pernah menjadi komisaris di PT RNI pada tahun 2008-2013. Sedangkan M. Yana Aditya selaku Direktur Keuangan merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Jabatan sebelumnya adalah Direktur Keuangan & SDM PT Balai Pustaka (Persero). Beliau juga seorang praktisi bisnis di bidang manajemen strategis dan manajemen keuangan. Sebelum bergabung di Balai Pustaka berkiprah di perbankan dan perhotelan. Agung P. Murdanoto selaku Direktur Pengembangan Usaha & Investasi, Meraih Gelar Sarjana dari IPB, Gelar Master dan Doktor bidang Agricultural di Kyoto University. Beliau menjabat sebagai Direktur PT Mitra Kerinci sejak Maret 2012. Karir sebelumnya adalah Deputi Direktur Pengembangan PT RNI tahun 2007-2012 dan Deputi Direktur Pengambangan Usaha Agro PT RNI 2004-1007 Elka Wahyudi selaku Direktur Pengendalian Usaha, Meraih Gelar Sarjana Pertanian dari Universitas Jember pada tahun 1982. Menjabat sebagai Direktur Utama PTP Mitra Ogan pada tahun 2007-2013. Pernah menjadi GM Perdagangan Agro PT Rajawali Nusindo 2004-2007. Sedangkan Djoko Retnadi selaku Direktur SDM & Manajemen Asset , meraih gelar Sarjana Ekonomi Studi Pembangunan dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1988 dan gelar Magister of Business, konsentrasi pada Finance and Banking dari Monash University Melbourne pada tahun 2000 sebelumnya menjabat sebagai Direktur Strategi Bisnis & Inovasi PT RNI sejak Mei 2014. Beliau memulai karir di BRI Pusat di Jakarta sempat menjabat sebagai Wakil Pemimpin Wilayah BRI Banjarmasin, Bandung, dan Jakarta. Acara Pisah Sambut Direksidan Komisaris ini di tutup dengan Kultum dan Buka puasa bersama dengan seluruh karyawan RNI beserta anak perusahaannya. (Salman Nusindo)